BERITA TERHANGAT DARI LINTAS BANGSA PAPUA BARAT ; ;

Minggu, November 30, 2008

Bukan Nikmat Sejati

Kenikmatan aktivitas seks, walau di luar nikah, agaknya telah memabukkan banyak orang. Konon, ada seorang oknum kapolsek yang tertangkap basah Berhubungan Intim Dengan Istri Anak Buahnya Sendiri. Konon pula, ada seorang artis yang bertelanjang dada di kover majalah luar negeri. Ah, tapi “pameran” ini “belum seberapa”.Kalau diantara orang yang sudah menikah itu terjerumus dalam perselingkuhan, diam-diam tanpa sepengetahuan suami/istri masing-masing, maka kaum remaja yang pacaran (secara non-islami) lain lagi. Disamping diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua dan guru, mereka (yang non-islami itu) bahkan terang-terangan memamerkan kemesraan di luar rumah. Mereka (dan kita?) seakan tak kenal malu, padahal memalukan.Rupanya, minat kita terhadap “kenikmatan seksual” begitu besar. Begitu besarnya perhatian kita terhadap “kenikmatan seks” itu, sampai-sampai ada pula buku Kamasutra Arab. Kalau perhatian kita dimaksudkan untuk berjaga-jaga sih bagus. Tapi kalau untuk mengumbar syahwat? Alamaaak….Memang, rangsangan syahwat itu “manusiawi”. Siapa pun dapat mengalaminya. Tak terkecuali seorang ahli ibadah yang bermukim di kota suci Makkah.Az-Zubair bin Bakkar telah menceritakan bahwa ‘Abdur Rahman bin Abu ‘Ammar bermukim di Makkah dan dia termasuk salah seorang ahli ibadah, bahkan karena ibadahnya itu ia dijuluki sebagai pendeta.Namun suatu hari ia bersua dengan seorang [gadis] yang sedang bernyanyi, ia tertegun mendengar suaranya yang begitu merdu, lalu ia mendengarkannya, namun pelayan gadis itu melihatnya. Si pelayan mempersilakannya untuk masuk menemui tuannya, jangan mendengarkannya dari luar.Akan tetapi, ‘Abdur Rahman menolak, dan si pelayan hanya bisa mengatakan: “Kalau begitu, terserah Tuan. Silakan mendengarkan nyanyiannya tetapi tanpa melihatnya.”‘Abdur Rahman mendengarkannya dari luar, lama-kelamaan dia merasa kagum. Melihat gelagat itu, si pelayan mengatakan kepadanya: “Maukah Tuan bila kuatur agar dia dapat bersua dengan Tuan?”Pada mulanya ‘Abdur Rahman agak menolak, namun setelah terus didesak akhirnya setuju. Ketika ‘Abdur Rahman bersua dengannya, ia langsung jatuh cinta kepada sang gadis, begitu pula sang gadis menyambut cintanya.Lama-kelamaan seluruh penduduk Makkah mengetahui percintaannya. Kemudian pada suatu hari sang gadis ingin berterus-terang kepadanya seraya mengatakan: “Demi Allah, aku cinta kepadamu.”‘Abdur Rahman menjawab: “Aku pun, demi Allah, cinta kepadamu.”Sang gadis berkata: “Demi Allah, aku ingin sekali meletakkan mulutku ke mulutmu berpagutan dalam ciuman.”‘Abdur Rahman menjawab: “Demi Allah, aku pun suka itu.”Sang gadis berkata: “Lalu mengapa engkau tidak melakukannya? Bukankah tempat ini sepi?”‘Abdur Rahman menjawab: “Sungguh celaka kamu! Bukankah Allah telah berfirman, ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.’ [QS. Az-Zukhruf (43): 67] Dan aku, demi Allah, tidak suka bila hubungan [percintaan] antara aku dan kamu di dunia ini kelak [berubah] menjadi permusuhan pada hari Kiamat nanti!”Kemudian ‘Abdur Rahman bangkit pergi meninggalkan sang gadis, sedangkan air matanya bercucuran karena cintanya yang sangat [mendalam] kepada sang gadis. (Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), hlm. 615-617.)Lantas, hikmah apa yang bisa kita petik dari situ? Tentu ada banyak, bukan? Satu diantaranya adalah bahwa kenikmatan duniawi, termasuk kenikmatan seksual, itu bukanlah kenikmatan sejati. Wajarlah bila ‘Abdur Rahman memilih bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Bagaimana dengan Anda? by (yosep gobai)

0 komentar:

Template by : YOSEP GOBAI komunitas-paniai.blogspot.com